Banyak arsitek dapat merancang bangunan mewah dengan arsitektur kompleks yang tampak megah dan menawan. Namun, bangunan seperti tempat ibadah dan gedung pertunjukan tidak cukup hanya memerhatikan nilai arsitektur murni. Prinsip akustik juga diperlukan.
Akustik pada bangunan-bangunan tersebut sangat penting karena kualitas suara yang jernih, jelas, dan minim interferensi dan noise tidak dapat dicapai semata-mata melalui audio & sound system. Penggabungan antara akustik dan arsitektur perlu dilakukan.
Dasar-Dasar Prinsip Akustik Arsitektural
Arsitektur akustik atau akustik arsitektural merupakan penggabungan prinsip arsitektur dengan prinsip akustik. Desain arsitektur bangunan bukan hanya mempertimbangkan keindahan visual dan fungsional umum (seperti kemudahan akses dan sebagainya), tetapi juga dengan memerhatikan fungsi akustik: bagaimana agar desain bangunan tidak merusak kualitas suara dan justru memperbaikinya.
Aristektur akustik bukan hanya berfugnsi pada tempat ibadah, gedung pertunjukan, dan concert hall, seperti halnya arsitektur umum, arsitektur akustik berfungsi di segala bangunan: kantor, instansi pendidikan, stadium, hotel dan apartemen, bahkan restoran dan tempat gym.
Berbagai faktor-faktor arsitektur nyatanya memengaruhi kondisi akustik di suatu area, di antaranya:
-
Bentuk geometri
-
Ukuran dimensi
-
Material
-
Iklim
-
Furniture
Suara yang berada di sebuah ruangan akan memantul ke berbagai permukaan di dalam ruangan tersebut: dinding, lantai, langit-langit dan furniture, ia akan terus memantul hingga energinya habis. Peristiwa ini disebut reverberation. Reverberation yang berlebihan akan membuat percakapan sulit dipahami meskipun jarak pendengar dan pembicara tidak jauh, bahkan kurang dari satu meter.
Bukan hanya membuat ucapan tidak jelas, harmonisasi dan keseimbangan suara musik juga bisa berantakan. Sinyal-sinyal audio dari perangkat sound system juga akan terganggu sehingga muncul suara nyaring dari mikrofon dan speaker.
Permukaan keras, rata, dan luas seperti dinding beton dan lantai cenderung memantulkan suara dan memperkuat reverberation. Sebaliknya, material lunak dan berpori seperti kain (termasuk karpet lantai), busa, dan panel absorber mampu menyerap suara sehingga mengurangi pantulan dan interferensi audio.
Prinsip dasar inilah yang harus dipahami oleh arsitek dalam memilih material dan mengatur tata ruang untuk mengendalikan kualitas suara tanpa mengesampingkan desain visual.
Strategi Desain untuk Kualitas Akustik yang Ideal
Setiap ruangan memiliki kebutuhan akustik yang berbeda bahkan sekalipun difungsikan untuk hal yang sama: misalkan sama-sama digunakan sebagai concert hall, kebutuhan antara concert hall A dengan B tidak mungkin sama persis, sehingga pendekatan atau teknik desain yang digunakan pun harus disesuaikan.
Namun, secara umum, permukaan keras, sudut yang tajam, ruangan berbentuk kubus (keenam sisinya sama panjang) akan meningkatkan reverberation dan mengurangi kualitas akustik. Oleh karena itu, waktu terbaik untuk mengoptimalkan kualitas suara adalah saat tahap perencanaan desain.
Dinding melengkung (ke mana arah lengkungannya juga akan berpengaruh), penggunaan material dengan kepadatan lebih rendah, permukaan-permukaan yang dibuat berperforasi atau dibuat slatted, serta pembagian permukaan menjadi bidang-bidang yang lebih kecil dapat membantu mengontrol pantulan suara.
Namun, tidak semua orang beruntung: mendapatkan arsitek yang memahami akustik sehingga bangunan atau ruangan sudah terlanjur jadi dengan spesifikasi yang jauh dari ideal dari segi akustik.
Tidak masalah. Ruangan atau bangunan yang sudah jadi tetap dapat dimodifikasi untuk meningkatkan kualitas akustik dengan beberapa cara, yaitu:
1. Panel Absorber
Panel absorber adalah material utama yang harus dipasang untuk mengurangi reverberation. Pada ruangan apapun, berukuran berapapun, dan berbentuk apapun, panel absorber adalah langkah akustik yang wajib dilakukan pertama kali.
Panel absorber bersifat lunak dan menyerap gelombang suara. Dipasang pada dinding (termasuk sudut-sudut dinding) dan langit-langit ruangan.
Ada beberapa tipe panel absorber:
-
Fabric absorber: panel absorber dibungkus oleh kain berpori
-
Slatted absorber: panel absorber dibungkus panel berlubang yang lubangnya berbentuk garis-garis panjang
-
Perforated absorber: panel absorber yang dibungkus panel berlubang bulat
Ketebalan panel absorber akan memengaruhi daya serapnya. Jenis material pembungkusnya juga akan memengaruhi kinerjanya. Pada kasus slatted dan perforated absorber bahkan ukuran lubang, jumlah lubang, dan jarak antar lubang juga sangat berpengaruh pada tingkat penyerapan absorber sehingga harus diperhitungkan secara matang.
2. Panel Diffuser
Panel diffuser mengatasi reverberation dengan cara memecah gelombang suara. Gelombang suara yang telah dipecah kemudian disebarkan ke berbagai sudut, bukan hanya satu sudut yang sama dengan sudut kedatangan gelombang suara. Hasilnya, reverberation bukan hanya berkurang, distribusi suara di dalam ruangan menjadi lebih rata dan seimbang.
Panel diffuser bersifat padat, terbuat dari kayu maupun multipleks. Permukaannya berkolom atau berbuku yang disebut dengan “sumur”. Lebar sumur dan kedalaman sumur akan memengaruhi rentang frekuensi yang dapat ditangkap oleh panel diffuser.
Berdasarkan arah persebaran suara, panel diffuser dibagi menjadi 2, yaitu:
-
Panel 1D: menyebarkan ke satu arah (vertikal saja atau horizontal saja), contoh linear atau QRD diffuser
-
Panel 2D: menyebarkan ke dua arah (vertikal sekaligus horizontal), contoh skyline diffuser
Selain itu terdapat geometric diffuser (paling umum berbentuk piramida dan silinder), sound diffuser jenis ini dapat termasuk 1D atau 2D tergantung bagaimana susunan pemasangannya.
Sama seperti panel absorber, panel diffuser dapat dipasang pada dinding maupun langit-langit.
3. Panel Reflektor
Panel reflektor tidak berfungsi untuk mengatasi reverberation. Namun, ia berfungsi untuk mengarahkan gelombang suara ke arah tertentu. Contohnya pada gedung pertunjukan, biasanya panel reflektor dipasang di langit-langit di atas panggung dan kursi penonton, panel diarahkan ke kursi penonton agar fokus di area sana, tidak menyebar dan menghilang ke arah lain. Umumnya berbentuk curve seperti layar perahu.
Pertimbangan dan Pendekatan Akustik Arsitektur untuk Ruangan yang Berbeda
Setiap jenis bangunan dan ruangan memiliki masalah yang khas. Misalnya gedung pertunjukan dan konser, dirancang untuk menguatkan dan mengarahkan sumber suara ke arah penonton sekaligus mengendalikan gema.
Penelitian menunjukkan bahwa ruang berbentuk bundar atau oval efektif dalam menyalurkan suara secara merata, tetapi tantangannya adalah menyeimbangkan reverberation karena beberapa genre musik justru memerlukan keberadaan reverberation sebagai bagian dari karakter suara.
Bangunan kantor memiliki masalah dan tantangan berbeda. Ruangan kantor biasanya luas dengan langit-langit rendah. Solusinya adalah dengan menggunakan drop ceiling dengan penambahan panel-panel absorber pada langit-langitnya.
Kesimpulan
Kualitas akustik yang baik idealnya dirancang sejak awal pembangunan, selama proses pembuatan desain dengan menggabungkan antara prinsip akustik dengan teknik arsitektur. Meski demikian, kualitas akustik ruangan dan bangunan yang sudah jadi tetap dapat ditingkatkan melalui berbagai solusi akustik.
Temukan solusi akustik lain di Instagram, TikTok, dan Youtube MyStudio Acousti atau konsultasi dengan tim MyStudio melalui WhatsApp.