Desain interior mempengaruhi kualitas akustik masjid. Ketika membangun maupun renovasi sebuah masjid, akan banyak saran yang diajukan. Sebagian memberikan saran perihal interior masjid, sebagian lain memberikan masukan perihal kondisi akustik.
Sayangnya, keduanya yang saling mempengaruhi sehingga membuat saran-saran tersebut tidak dapat diterapkan seluruhnya. Sebagai contoh, terdapat saran agar masjid dibuat polos tanpa relief dan dekorasi sama sekali. Sementara saran lain menginginkan agar persebaran suara di dalam masjid dibuat merata.
Kedua saran tersebut saling bertentangan karena agar persebaran suara merata diperlukan panel-panel tambahan, sedangkan penambahan panel membuat desain masjid tampak memiliki dekorasi.
Lalu mana yang sebaiknya diterapkan? Untuk menjawab dilema tersebut MyStudio telah merangkum apa saja dilema interior dan akustik pada masjid beserta solusinya.
5 Dilema Akustik Masjid dan Solusinya
1. Berapa Kebutuhan Waktu Dengung di Masjid?
Masjid seringnya digunakan untuk berbicara. Sementara waktu dengung yang disarankan untuk ruang dengan fungsi pembicaraan adalah di bawah 1 detik.
Akan tetapi, masjid tidak hanya digunakan untuk pembicaraan. Terdapat lantunan ayat suci Al-Quran yang semestinya terdengar sakral agar para jamaah lebih khusyuk dalam beribadah. Jika menggunakan acuan di bawah 1 detik maka kesan sakral tersebut akan hilang.
Berikut grafik reverberation time pada beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, dikutip dari penelitian Doelle (1972).

Pada grafik di atas terlihat bahwa ruangan yang digunakan untuk berbicara (speech) memiliki reverberation time (RT) atau waktu dengung tidak sampai 1 detik.
Sementara itu, Sinan (1989) melakukan penelitian mengenai reverberation time pada masjid. Pada hasil penelitian tersebut didapatkan grafik berikut:

Dari grafik Sinan di atas terlihat bahwa reverberation time untuk masjid tidak mengacu pada reverberation untuk ruangan speech performance. RT masjid sekitar 1,4 hingga 2,7 detik.
Harris (1997) juga melakukan penelitian pada beberapa ruangan. Pada hasil penelitiannya ditemukan waktu dengung untuk gereja katolik dan waktu dengung untuk gereja protestan sebagai berikut:

RT pada gereja katolik yang disarankan adalah di atas 1 detik hingga 2,5 detik. Sementara RT pada gereja protestan di bawah 1 detik (sekitar 0,8) hingga 2,3 detik.
Gereja katolik umumnya menggunakan alat musik yang lebih sedikit dibandingkan gereja protestan. Hanya berupa organ maupun piano. Doa-doa yang dipanjatkan membentuk paduan suara, bukan nyanyian-nyanyian dari grup band sehingga lebih sakral.
Hal tersebut sedikit mirip dengan yang terjadi pada masjid. Suasana di masjid cenderung sakral, tidak menggunakan alat musik sama sekali. Jika ada berupa rebana yang hanya dimainkan pada acara-acara khusus.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kebutuhan akustik masjid hampir sama dengan kebutuhan akustik pada gereja katolik.
Dari grafik-grafik di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan reverberation time pada masjid tidak mengacu atau tidak identik dengan RT pada ruangan untuk kebutuhan pembicaraan karena RT yang dibutuhkan lebih tinggi.
Baca juga: Permasalahan Interior Akustik Gereja dan Solusinya
Lalu, Bagaimana Cara Menentukan Reverberation Time Masjid yang Ideal?
Setiap orang memiliki preferensi berbeda sehingga setiap perancang akustik akan memiliki nilai ideal yang beragam. Sementara itu, tim MyStudio menentukan waktu dengung yang ideal bagi masjid adalah di atas 1,5 detik.
1,5 detik merupakan titik tengah antara waktu dengung ideal untuk percakapan dengan waktu dengung ideal berdasarkan penelitian Sinan dan Harris.

1,5 detik merupakan angka yang ideal karena jika waktu dengung terlalu tinggi maka kejelasan pembicaraan akan berkurang. Sementara jika terlalu rendah maka kesan sakral yang akan berkurang.
Apabila waktu 1,5 detik dirasa membuat kesan sakral tetap kurang maka dapat diakali melalui pengaturan langsung pada sound system. Pada sound system dapat diatur efek reverberation.
2. Perlukah Kubah Ditutup?
Permasalahan akustik masjid yang berikutnya adalah apakah kubah perlu ditutup atau tidak? Kubah merupakan bagian yang krusial karena dapat menyebabkan pemusatan bunyi. Jika sumber suara berada dekat dengan kubah maka suara akan kembali ke sumber suara di manapun posisinya sehingga menyebabkan gema yang terlalu dominan.
Jika masjid belum dibangun, perlu ditinjau apakah titik fokus kubah berada di atas telinga kita atau tidak.
Jika kubah cukup tinggi, tidak mencakup seluruh ruangan, dan rasionya dengan luas ruangan tidak terlalu besar maka terdapat area yang bebas dari pantulan kubah. Pantulan hanya berpusat pada area di sekitar kubah.
Sehingga jika kubah belum dibangun harus diperhitungkan berapa nantinya tinggi dan besar kubah agar tidak mengganggu ruangan di bawahnya.
Che Din et al., 2019 melakukan penelitian pengaruh bentuk kubah terhadap ruangan di bawahnya. Berikut jenis-jenis kubah tersebut:

Masing-masing kubah menghasilkan sound transmission index (STI) atau kejelasan bunyi percakapan yang terjadi pada ruangan di bawah kubah yang disajikan pada tabel berikut:

Nilai STI di atas 0,70 artinya memiliki kualitas yang bagus, nilai 0,40-0,70 memiliki kualitas yang sedang, jika di bawah 0,40 kurang disarankan.
Data di atas menunjukkan rata-rata STI masjid tanpa kubah adalah 0,56, masjid dengan jenis arabic dome 0,50, segmental dome 0,56, onion dome, 0,55, dan hemispherical dome 0,54.
Nilai STI paling tinggi dimiliki oleh segmental dome, yaitu 0,56 sedangkan nilai paling rendah dimiliki oleh arabic dome, yaitu 0,50.
Apakah artinya jenis segmental dome lebih baik dibandingkan jenis arabic dome? Jika volume ruangan, ukuran kubah, dan tinggi kubah sama persis dengan data pada penelitian tersebut maka segmental dome merupakan pilihan yang lebih baik.
Namun, jika volume ruangan berbeda maka perlu diukur berapa besar dan tinggi kubah agar mencapai STI yang baik.
Bagaimana Jika Kubah Sudah Dibangun?
Jika kubah sudah dibangun, kemudian muncul permasalahan seperti kubah terlalu besar, ketinggian terlalu rendah atau bahkan terlalu tinggi maka solusi akustik masjid yang dapat dilakukan adalah dengan memasang material-material lunak maupun material-material yang tidak rata di dalam kubah.
Material lunak merupakan absorber yang dapat dibuat dari mineral wool maupun busa peredam (acoustic foam) yang dibungkus kain. Namun, pemasangan material ini biasanya akan mengubah desain arsitektur/desain interior. Desain menjadi berbeda, tidak seperti rancangan awal.
Namun, jika finishing panel absorber dapat dibuat menyesuaikan dengan desain masjid maka justru dapat meningkatkan value desain interior.
Sementara material-material yang tidak rata dapat berupa penambahan relief pada kubah masjid. Relief ini nantinya justru akan membuat masjid terlihat lebih megah. Namun, tetap akan mengubah desain masjid.
Masjid yang tadinya berdesain modern misalkan, jika bagian kubahnya diberi relief maka akan memberikan kesan arab medieval (zaman kuno).
3. Penggunaan Material Keras vs Lunak
Penggunaan material baik keras maupun lunak sama-sama memunculkan permasalahan. Material-material yang keras akan membuat pantulan suara di dalam masjid terjadi secara berlebihan.
Sementara material lunak kurang disukai karena menyebabkan debu mudah menempel, sehingga harus sering dibersihkan. Selain itu, sebagaimana yang tadi telah disebutkan, dapat mengubah desain awal. Akan tetapi, jika material tersebut dipasang dengan desain tertentu yang disesuaikan dengan desain masjid maka akan menambah nilai visual.
Contohnya seperti salah satu proyek MyStudio berikut. Untuk mengatasi permasalahan akustik masjid kami memasang panel-panel absorber pada 2/3 bagian dinding masjid. Panel absorber tersebut kami desain seindah mungkin agar tidak merusak nilai visual masjid.
Jika menggunakan material keras maka salah satu solusinya adalah menambahkan karpet di bagian lantai. Penggunaan karpet akan membuat waktu dengung berkurang, tetapi kurang mampu menyerap mid low frequency.
Bagaimana Jika Ingin Desain yang Sederhana?
Jika desain masjid yang diharapkan merupakan desain yang sederhana, terlihat bersih atau polos tanpa adanya ornamen-ornamen maka dapat menggunakan material perforasi dapat berupa gypsum, multiplek maupun papan lainnya yang diberi lubang.
4. Layout Terbuka vs Layout Tertutup
Mayoritas masjid di Indonesia memiliki layout semi terbuka karena diperuntukkan bagi umum. Tujuannya adalah untuk “mengundang” orang-orang untuk datang ke masjid.
Namun, dalam kondisi tertentu masjid perlu dibuat tertutup seperti masjid di tengah kota atau masjid di lingkungan pabrik. Tujuannya untuk menghindari kebisingan di sekitar masjid agar kondisi lebih tenang.
Memilih layout terbuka maupun semi terbuka perlu mempertimbangkan apakah perlu diberi sound barrier atau tidak. Sound barrier dapat dibuat dari tanaman-tanaman yang ditanam di sekeliling masjid. Tentunya, vegetasi ini perlu didesain sedemikian rupa agar fungsinya sebagai sound barrier dapat maksimal.
Sedangkan untuk layout tertutup, pertimbangan yang perlu dipikirkan adalah pencahayaan dan penghawaan (sirkulasi udara).
Jika masjid tertutup dilengkapi dengan insulasi suara maka dapat menggunakan penghawaan buatan berupa AC.
5. Mengadakan Sound System Dulu atau Interior Akustik Dulu?
Interior akustik masjid dengan sound system sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Apabila interior akustik tidak ditangani maka sound system tidak dapat bekerja secara maksimal, sebagus apapun sound system tersebut.
Ketika interior akustik sudah diterapkan maka sound system dengan kualitas biasa saja dapat bekerja dengan maksimal, hal ini dapat mengurangi anggaran pengadaan sound system.
Itulah 5 dilema yang sering terjadi pada interior dan akustik masjid. Pembahasan selengkapnya dapat Anda simak di channel Youtube MyStudio. Memiliki masalah interior dan akustik pada masjid? Temukan solusinya dengan cara hubungi WhatsApp MyStudio. Jangan lupa follow Instagram dan TikTok kami untuk mendapatkan informasi seputar interior akustik lainnya.