TIMBRE / TONE COLOR / WARNA BUNYI dan AKUSTIK RUANG PART 2 (PENGARUH RUANG TERHADAP TIMBRE)

TIMBRE / TONE COLOR / WARNA BUNYI dan AKUSTIK RUANG

PART 2 (PENGARUH RUANG TERHADAP TIMBRE

       Dalam Part 1 telah dijelaskan mengenai apa itu timbre dan bagaimana terbentuknya timbre di beberapa instrumen bunyi, sekarang mari kita membahas mengenai pengaruh ruang terhadap timbre. Ketika kita mendengarkan bunyi di luar ruang atau alam bebas, tidak ada pembatas kecuali tanah tempat kita berpijak, bunyi akan ditransmisikan ke telinga kita tanpa adanya pantulan. Berbeda dengan di dalam ruang tertutup, bunyi yang di transmisikan ke telinga kita secara lebih kompleks, yaitu bunyi langsung dan serangkaian bunyi pantulan. Bunyi langsung dan bunyi pantulan ini akan bercampur dan akan mempengaruhi bunyi tersebut yang tentu saja berpotensi menyebabkan terjadinya perubahan warna bunyi (coloration).

       Coloration dalam bunyi merupakan fenomena yang sangat kompleks. Dalam praktiknya, mustahil untuk dapat memenuhi kebutuhan akustik dari setiap instrumen bunyi dalam satu ruang. Setiap alat musik membutuhkan waktu dengung yang berbeda-beda agar dapat terdengar baik secara subjektif. Namun, pada dasarnya, coloration dapat terjadi karena beberapa hal seperti:

WAKTU DENGUNG

         Untuk memperoleh timbre yang diharapkan dalam sebuah ruang setidaknya kita perlu menyesuaikan waktu dengung yang sesuai dengan volume ruang, fungsi ruang apakah untuk musik atau untuk percakapan dan jika musik apakah untuk musik klasik ataukah modern dan jika musik klasik apakah untuk string quartet, chamber, ataukah orchestra dan masih banyak pertimbangan lain tergantung bagaimana kita membatasinya. Waktu dengung ruang dipengaruhi oleh volume dan serapan bidang-bidang pembatas ruang.

        Beberapa ahli telah mendapatkan hasil dari penelitian terhadap waktu dengung berdasarkan subjektivitas manusia dari berbagai kalangan dalam berbagai ruang yang menampilkan berbagai genre musik tertentu. Setiap ahli dapat memiliki data dan kesimpulan yang berbeda-beda, namun disinilah menariknya, setiap ahli memiliki argumennya masing-masing dan bersifat ilmiah. Mari kita tilik grafik waktu dengung terhadap volume dan genre musik yang dicetuskan oleh Long berikut ini:

Grafik Hubungan Waktu Dengung dengan Volume Ruang

Sumber : Long, 2009

       Dalam grafik di atas dapat kita lihat hubungan antara waktu dengung dengan volume, serta pengkategorian fungsi ruang dan genre musik tertentu. Dalam grafik, semakin besar volume ruang, kebutuhan waktu dengung semakin tinggi. Dalam arti yang sebenarnya adalah manusia cenderung lebih menyukai dengung yang lebih panjang di ruang dengan volume yang lebih besar, begitu pula sebaliknya. Dalam grafik, genre musik organ menempati fungsi dengan kebutuhan waktu dengung yang tertinggi, diikuti dengan musik romantis, musik choir, dan musik klasik. Jenis-jenis musik tersebut membutuhkan waktu dengung yang cenderung panjang agar musik berkesan “hidup”. Di bawah grafik, terdapat teater, auditorium, ruang konferensi, dan ruang kelas. Fungsi ruang yang memiliki bunyi berupa suara manusia cenderung membutuhkan waktu dengung yang relatif pendek karena waktu dengung yang terlalu panjang akan mengurangi kejelasan suara manusia.

        Penyesuaian waktu dengung harus dipenuhi di semua frekuensi, jika tidak maka berpotensi mempengaruhi karakter bunyi asli. Sebuah ruang yang memiliki waktu dengung berlebih di frekuensi rendah akan membuat bunyi tersebut berkesan “boomy” dengan bunyi bass yang berlebihan. Sebaliknya, ruang yang memiliki waktu dengung yang berlebih di frekuensi tinggi akan membuat bunyi tersebut berkesan “noisy” dengan bunyi treble yang berlebihan. Efek tersebut tentunya akan mempengaruhi timbre.

EARLY REFLECTION

        Pantulan bunyi dalam sebuah ruang dapat menguntungkan atau merugikan. Pantulan bunyi yang terlalu awal dengan level yang signifikan akan berpotensi menimbulkan coloration. Pantulan bunyi yang datang belakangan juga dapat berpotensi mengubah warna bunyi jika tidak terdifusikan dengan baik. Lalu bagaimanakah pantulan yang mendukung bunyi? Mari kita lihat grafik impuls bunyi berikut ini:

Anatomi Respon Impuls

Sumber : Proaudioencyclopedia.com

        Sebuah bunyi diawali dengan sebuah bunyi langsung (direct), bunyi kemudian dipantulkan menimbulkan bunyi pantulan awal atau disebut early reflection dan pantulan akhir atau disebut juga dengan reverberant. Di antara bunyi langsung dengan bunyi pantulan awal (early reflection), terdapat jarak yang disebut dengan Initial Time Delay (ITD). Beberapa ahli menyarankan nilai ITD yang disarankan adalah sekitar 20ms dari bunyi langsungnya agar dapat menimbulkan Hass Effect, yaitu efek meruang (bunyi seakan-akan lebih lebar dari aslinya) dan banyak sound engineer yang menyukai efek ini. Syarat lain agar coloration dapat dikurangi adalah selisih bunyi langsung dengan bunyi pantulan tidak boleh kurang dari 20dB atau level bunyi pantulan harus lebih kecil setidaknya lebih dari 20dB dari bunyi langsung.

Batasan Level Pantulan Bunyi yang Disarankan

Sumber : Mystudio Acoustical Analysis (dengan CATT)

         Dalam sebuah studio rekaman, early reflection dapat menimbulkan comb filtering yang berpotensi menimbulkan coloration. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan merencanakan area bebas pantulan atau Reflection Free Zone (RFZ) yang dilakukan dengan membentuk ruang sedemikan sehingga tercipta area bebas pantulan. Bentukan ruang yang demikian memantulkan bunyi ke belakang ruang dan di bidang belakang, bunyi biasanya diserap total atau di sebar dengan menggunakan panel penyebar (diffuser) jika menginginkan adanya Hass Effect.

Zona Bebas Pantulan Dalam Studio Rekaman

Sumber : Mixofon.com

 

FREQUENCY RESPONSE

        Penyesuaian frequency response merupakan hal yang sangat sulit dilakukan mengingat begitu lebarnya rentang frekuensi bunyi, selain itu juga setiap bentuk, tingkat serapan, dan struktur bangunan juga mempengaruhi frequency response dalam sebuah ruang. Setiap faktor tersebut akan menimbulkan room modes di frekuensi tertentu dan cukup sulit perhitungannya terlebih lagi jika bentuk ruang tersebut tidak wajar. Semakin banyak pantulan dalam sebuah ruang, maka grafik frequency response akan semakin bervariasi, begitu pula sebaliknya. Beberapa ahli menyarankan frequency response yang baik adalah berkisar di antara +- 10dB namun hal ini tidak mudah. Sekarang mari kita lihat frequency response dari sebuah ruang persegi yang tidak di treatment.

Room Modes Dalam Grafik Frequency Response

Sumber : Acousticinsider.com

          Dalam ruang yang tidak di treatment, room modes sering terjadi di frekuensi rendah, dan ini adalah masalah besar dalam reproduksi bunyi di studio rekaman karena EQ cenderung tidak dapat mengatasi dengan baik di frequensi rendah. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan bass trap di ujung-ujung ruang sehingga level bunyi di frekuensi rendah dapat diminimalkan. Selain itu, pengendalian dari pantulan-pantulan yang mengganggu dapat dihindari.

           Jika ruang belum terbangun, ada baiknya menggunakan rasio dimensi yang disarankan oleh Seppmeyer, sehingga jumlah room modes dapat diminimalkan. Dengan menggunakan rasio panjang, lebar, dan tinggi, maka kita dapat menggunakan ruang persegi dengan jumlah modes yang minimal tanpa melakukan banyak treatment akustik.

Tinggi                    Lebar                     Panjang

A             1.00                       1.14                       1.39

B             1.00                       1.28                       1.54

C             1.00                       1.60                       2.33

Rasio Dimensi Ruang yang Disarankan Seppmeyer

 

Penulis

 

Bahana A. Siregar, S.T., M.Sc.

Mystudio Interior Acoustic Consultant

WhatsApp Call